Saat ini banyak sekali di negara kita bermunculan orang-orang pintar, dari yang pintar ngomong sampai yang pintar membalikkan fakta. Negara kita juga kelebihan SDM sampai-sampai bisa untuk ekspor tenaga kerja keluar negeri. Bangsa kita merupakan bangsa yang besar, kekayaan alam kita juga melimpah. Tapi coba kita renungkan, ada yang salah terhadap negara kita ini. Ya… kita memang kekurangan orang yang jujur. Sayangnya yang mengetahui bahwa seseorang berkata jujur atau tidak hanyalah Tuhan dan orang itu sendiri, BPS (Badan Pusat Statistik) tidak bisa mengumpulkan datanya. Persentasenya pun nggak ada. Mungkin ini adalah salah satu penyebab negara kita tidak henti-hentinya di terpa badai dan prahara (walaahhh). Ini bukan suatu sikap Pesimistis saya, tapi dari yang saya lihat ya seperti itu adanya. Atau pandangan kita terhadap sebuah kejujuran sudah berubah seperti ” Yang jujur akan hancur” atau kita berpikiran seperti ini “Sekarang ini Yang haram saja susah, Apalagi Yang halal”…
Saya jadi teringat sebuah iklan di TV yang saya lupa iklan apa. Iklanya tentang seorang anak kecil yang pulang mancing bawa ikan terus ditanya sama ibunya…”Dapat nggak ikannya..?” dan anak kecil itu menjawab “dapat bu..tapi kecil-kecil…”.
Mungkin kejujuran kita hilang bersama kedewasaan kita kali ya. Semakin tua, semakin nggak jujur. Terus terang saya punya hobi mancing, dan kalau saya mendapatkan ikan yang kecil selalu saya buang karena saya tidak ingin orang lain menertawakan saya karena saya mendapatkan ikan yang kecil-kecil, jadi jika ada yang bertanya seperti iklan di atas saya akan menjawab “Ahh..ikannya lagi pada puasa..nggak ada yang makan tuh”. Pokoknya panjang supaya orang tersebut percaya. Tapi jika saya renungi..dari hal sekecil ini saja saya sudah mulai tidak jujur, mungkin yang lebih besar dan berat tanggung jawabnya pun saya akan lebih tidak jujur lagi. Wahh gawat juga ya…Jadi memang ada baiknya kita mulai melatih kejujuran kita dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Siapa tau suatu saat nanti kita dapat memberikan sesuatu yang berarti terhadap bangsa dan negara tercinta ini. Percayalah kita akan mendapatkan sesuatu yang berharga buah hasil dari kejujuran kita di masa yang lalu.
Jujurlah terhadap diri sendiri, Jujurlah terhadap orang lain, Jujurlah terhadap istri dan suami anda, Jujurlah berpendapat, Jujurlah menulis di blog, jujurlah memberikan komentar di blog tetangga atau di blog ini juga nggak apa-apa asal jangan SPAMMING ya
. Pokoknya marilah mulai sekarang kita belajar jujur dari yang kecil-kecil sekalipun.
Ya itulah sedikit yang terpikir dari saya tentang sebuah kejujuran…
Simak lirik lagu berikut ini …
AYO KAWAN…AYO KAWAN..KEMARI
KITA BERLATIH KEJUJURAN
JANGAN SAMPAI….JANGAN SAMPAI..OH KAWAN
KITA HIDUP DALAM KEBOHONGAN…



Wakakaa….
Kalo ada tukang korupsi baca postingan ini pasti kena banget.
Komentar oleh Jenova — 24 Februari, 2008 @ 7:23 pm
saya setuju dengan “kejujuran kita hilang setelah kita menginjak dewasa” dinegara kita banyak sekali orang-orang “pintar”. apa karena kita membutuhkan sebuah pujian hingga kejujuran tidak pernah bisa dipertahankan.
Komentar oleh deprant — 24 Februari, 2008 @ 9:37 pm
Ikutan kampanye ‘JUJUR’ ah di sini! Hehehe…
Barusan, saya juga menulis tema yang sama ttg kejujuran di blog saya. Diangkat dari kasus nyata anak2 mahasiswaku yang ‘kreatif’ itu!
Dan ehm, siapa bilang kejujuran hilang ketika dewasa? Anak2 pun sejak zaman saya saja terbiasa untuk tidak jujur. Karena ya gimana lagi, “Kalau jujur malah jadi dapat hukuman? Kalau jujur itu tidak dihargai? Ya buat apa jujur jadinya?!” Itulah yang membuat kebanyakan orang jadi memulai kebiasaan untuk tidak jujur.
Komentar oleh ika maya susanti — 6 Maret, 2008 @ 1:50 am
@ Ika Maya Susanti … wuihh..berarti lebih parah donk dari dugaan saya..oke deh mari kita sama-sama kampanye jujur..apalagi belakangan ini para blogger mendapat pukulan telak dari seorang ahli/pakar/tehnokrat bangsa ini..hehehe
Komentar oleh radit74 — 6 Maret, 2008 @ 2:51 am